1. KANDULOK MENCARI PAK KYAI
'Kandulok ! Kandulok"panggil bapaknya berulang-ulang
"Ya, pak"jawab Kandulok, bergegas-gegas ia menhampiri bapaknya, "Ada apa, pak?" tanya Kandulok pula.
"Begini anakku manis. Sekarang enkau pergi ke rumah pak Kyai. Katakan, besok sehabis lohor pak Kyai diharap datang kesini. Bapak mau mengadakan selamatan !"
"Kyai, pak?" tanya Kandulok perlahan-lahan. Ia berdiri kaku sebagai tombak. Matanya layu memandang Bapaknya.
"Kyai, pak?" Kandulok menanya pula.
"Ya, pak Kyai. Kau tahu siapa yang dinamakan pak Kyai, bukan?"
"Tak tahu pak! Bagaimana rupanya pak Kyai itu, pak?"tanya Kandulok takut-takut.
"Masakan pak Kyai saja kau tak kenal. Engkau sering bermain-main di Mesjid, tetapi engkau tak tahu, siapa pak Kyai itu!"
"Tak tahu, pak! Kalau aku kenal, masakan ....."
"Ah sudah Kandulok. Dengarkan baik-baik. Aku terangkan siapa pak Kyai itu. Kalau engkau sampai di Mesjid melihat ada orang memakai jubah putih, bersorban atau memakai peci hitam, biasanya memegang tasbih, dialah yang dinamakan orang pak Kyai. Engkau mengerti sekarang?"
"Berjubah putih, pak?" tanya Kandulok dengan suara terputus-putus. Memang belum pernah sekalipun ia melihat seseorang berjubah putih di Mesjid.
Karena itulah ketika Bapaknya mengatakan pak Kyai memakai jubah putih, bersorban dan selalu memegang tasbih ia menjadi heran.
"Kau tahu atau tidak, Kandulok?" tanya bapaknya kesal. Suaranya keras sekali, hingga ibu kandulok yang sedang masak di dapur mendengarnya.
"Aih-aih !ada apa lagi sih pak?" tanya ibu Kandulok.
"Betul-betul anak kita ini bodoh! Sudah aku terangkan berkali-kali ciri-ciri pak Kyai dia tidak mengerti juga!" Kata pak Sadulah kesal.
"Ya sabarlah sedikit, pak! Anak kita berbeda dari anak orang lain. Makin kasar kita berkata-kata makin tak mengerti dia !" Begitulah kata ibu Kandulok meredakan marah suaminya. Dengan penuh kasih, ibunya memperhatikan wajah anaknya yang pucat karena dimarahi Bapaknya.
"Kandulok, kemari anakku sayang.Ibu akan terangkan bagaimana rupa pak Kyai itu. Juga tempat tinggalnya sehari-hari!" kandulok datang mendekati ibunya. Mulutnya dia buka lebar-lebar. Celah-celah giginya yang kekuningan terlihat jelas sekali. Ibunya membelai-belai rambutnya dengan penuh kasih sayang. "Nah Kandulok, besok kita mau selamatan, bapakmu menyuruh engkau panggil pak Kyai, bukan?"
Kandulok menganggukkan kepalanya tanpa berkata-kata sepatahpun.
"Engkau kenal pak Kyai?" tanya ibunya.
"Tidak kenal, bu!' jawab Kandulok perlahan-lahan.
"Nah sekarang ibu akan terangkan ciri-ciri pak Kyai itu. Jika kau datang ke Mesjid, di sana selalu ada pak kyai. Kalau tak salah rumahnya ada di sebelah kanan mesjid. Orangnya selalu pakai jubah dan sorban putih. Biasanya ia pegang tasbih, karena setiap saat pak kyai berdoa. Jadi kalau lihat orang, semacamitu, dialah yang dinamakan pak kyai, sekarang engkau mengerti, bukan?"
"Mengerti bu!" jawab Kandulok.
"Bagus," kata ibunya pula."Nah kalau engkau sudah bertemu dengan pak Kyaiitu, katakan begini,"Pak Kyai, bapak harap besok datang sehabis lohor ke rumah kai. Karena Bapak hendak mengadakan selamatan!Tak usah engkau tambahi atau kurangi pesan bapakmu itu! Nah, pergilah engkau, jangan sampai terlambat!"
"Baik bu!" jawab Kandulok, lalu pergilah ia. Sementara itu Ibu Kandulok memperhatikan benar-benar langkah anaknya sampai hilang dari pandangannya. Dengan menarik nafas dalam-dalam, ibu Kandulok berkata, "Pak , kasihan betul nasib anak kita yang sangat bodoh itu!"
"Apakah aku salah, kalau aku marahi dia tadi?" jawab pak Sadulah memutus perkataan istrinya. Lalu sambungnya pula, "Berkali-keli aku terangkan, hingga kaku mulutku, tetapi dia tidak mengerti juga. Jika engkau tak lekas datang, mungkin sekali tanganku telah melayang di kepalanya!"
Dengan nada sedih isteri pak Sadulah menjawab,"Ya, apa hendak dikata, anak tunggal kita telah ditakdirkan mempunyai otak tumpul!"
setelah hening sejenak pak Sadulah berkata,"Walaupun umur anak kita hampir 14 tahun, tetapi engkau dengar sendiri tadi----ia belum kenal pak kyai. Di sekolah? Waduh, dia terbilang anak yang bodoh sekali. Aku seringkali ditegur gurunya, supaya aku ikut mengajar dia di rumah. Kau mau tahu bagaimana keadaan anak kita di pengajian? Kawan-kawannya sudah pandai membaca Al-Qur'an, tetapi Kandulok belum dapat mengenal huruf. Sekali pernah aku ajak dia bekerja di sawah. Kau tahu apa kerjanya disana? Bukan membantu aku, melainkan hanya memandang burung-burung yang berterbangan, atau memetik-metik bunga padi. Ya, aku tak tahu, bagaimana nasibnya kelak!"
Betapa pedihnya hati ibu kandulok, tak dapat dilukiskan. Ia berdoa, semoga Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan rahmat-Nya, agar anaknya menjadi anak yang berguna untuk Nusa dan bangsa kelak. Sementara itu Kandulok telah sampai di masjid. Matanya tajam memperhatikan tiap-tiap orang yang lewat. ia masih mencari-cari dimana tempat tinggal pak kyai.
"Apa kata ibuku tadi? O, ya,ia selalu ada di Mesjid, pakai jubah putih," begitu kata Kandulok seorang diri. Ia perhatikan sungguh-sungguh ruang mesjid. Tetapi ia tak bertemu dengan orang berjubah putih. Ketika ia keluar mesjid, terlihat olehnya seiringan burung bangau, "Nah, apa ini yang dinamakan pak kyai? Tidak salah lagi. Mereka berjingkrak seperti anak kecil minta dibelikan gula-gula di warung.
"Pak kyai!" teriak Kandulok sambil mendekati burung-burung bangau itu. "Ho, mengapa mereka tak mau berhenti? Apa ada orang lain yang mau berkenduri pula?" pikir Kandulok.
"Pak Kyai, pak Kyai!!" Teriak Kandulok berulang-ulang. "Bapakku .....!" Belum lagi habis Kandulok berkata-kata semua burung bangau itu terbang, Mungkin sekali burung-burung itu terkejut mendengar suara Kandulok seperti bunyi kaleng pecah. Kandulok tak putus harapan. Sekali lagi ia berteriak sekuat tenaga,"Pak Kyai, pak kyai. Di rumah mau selamatan ...!"
Burung-burung bangau tadi tak menghiraukan teriak Kandulok. Makin dikejar-kejar, makin tinggi terbang burung-burung itu. Hilangkah semua harapannya. Kesal hati Kandulok buka main. lama ia berdiri di tempat itu, sampai burung-burung itu menghilang dari penglihatannya.
"Ya, bagaimana harus kukatakan kepada Bapakku nanti?" Keningnya ia tutupi denga telapak tangan kiri seakan-akan ia sedang berpikir. Sambil memikirkan apa yang akan dia katakan nanti, pulanglah ia.
Untung baik juga bagi Kandulok. Kebetulan sekali bapaknya tidak ada dirumah. Jadi di rumahnya hanya ada ibunya saja.
Ketika ibunya melihat wajah anaknya yang berseri-seri, dia sangka si Kandulok berhasil berjumpa dengan pak Kyai.
"engkau bertemu dengan pak Kyai?" tanya ibunya ingin tahu.
"Sudah bu!Aku sudah bertemu dengan pak kyai. Pesan Bapak sudah kusampaikan. Tetapi .... "
"Tapi bagaimana, anakku sayang?" tanya ibunya kandulok perlahan-lahan.
"Pak kyai tak menjawab apa-apa, bu. Malahan waktu aku hampiri, mereka takut. Lalu mereka terus terbang dan menghilang di sawah. Apa pak kyai dapat terbang, bu?" tanya Kandulok.
"Pak kyai terbang ke sawah?" tanya ibunya heran. Kandulok diam saja. Lalu ibunya berkata," Coba kau ceritakan sekali lagi dimana kau berjumpa pak kyai itu. Dan apa sebabnya ia terbang ke sawah. Ibu tak mengerti maksudmu!"
Kandulok mundur beberapa langkah. Ia bingung apa yang hendak dia ceritakan. Setelah berkali-kali didesak, akhirnya Knadulok menceritakan juga pertemuannya dengan "Pak kyai". Katanya,"Sesudah lama aku menunggu lama di depan masjid, lewat segerombolan "pak kyai". Aku pikir mereka baru sembahyang. Sebab pak kyai itu masih memakai jubah putih. Aku hampiri salah seorang "pak kyai" itu. Aku katakan sekuat-kuatnya pesan Bapak, hingga orang-orang yang mendengarnya menertawakan aku. Tetapi Pak kyai diam saja. Malahan mereka berjalan lebih cepat lagi."
"Lalu apa yang kau lakukan?" tanya ibunya. Bibirnya dirapatkan karena menahan tawa.
"Aku perhatikan mereka. Aku lihat pak kyai itu turun lagi. Lalu mereka pergi kesawah beramai-ramai. Barangkali di sawah ada orang yang selamatan juga, bu!"
"Aduh, aduh. itu bukan pak kyai, melainkan burung bangau, kandulok. Bapakmu tentu marah, kalau ia mendengar ceritamu itu. Ayo, cepat-cepat kau pergi ke masjid lagi. Barangkali pak kyai sudah ada di sana, sebab sebentar lagi tiba waktu asyar!" kata ibunya.
"Asyar , bu? Di mana tempat tinggal pak asyar?" tanya Kandulok heran.
"Bukan pak asyar yang harus kau cari, Kandulok. Asyar yang aku maksudkan yaitu waktu sembahyang sesudah lohor," jawab ibu Kandulok dengan lemah-lembut. "Nah, cepat-cepatlah kau pergi. Sebentar lagi bapakmu pulang. Kalau ia tahu engkau belum bertemu pak kyai, tentu ia marah!"
Kandulok diam saja. Ia berdiri tegak seperti tonggak. Mungkin ia bimbang, apakah ia akan bertemu dengan pak kyai atau tidak.
"Bagaimana Kandulok? Apa engkau mau pergi apa tidak! Ibu khawatir bapakmu akan marah nanti. Pergilah segera. dan engkau masih ingat ciri-ciri pak kyai itu, bukan? O, ya, ibu tambah lagi ciri-ciri pak kyai itu! Engkau pernah mendengar orang membaca doa, bukan?"
"Pernah, bu!" jawab Kandulok cepat.
"Nah, orang-orang yang semacam itu patut engkau undang. Mereka dapatjuga dianggap pak kyai, walaupun belum menjadi kyai yang sebenarnya!"
"Baiklah kalau begitu, bu!" jawab Kandulok, lalu ia pergi ke mesjid lagi. "Sayang, kalau tadi ibu katakan tidak semua kyai pakai jubah, dan asal dapat membaca doa saja, tentu mudah aku mencari dia!" pikir Kandulok.
'Kandulok ! Kandulok"panggil bapaknya berulang-ulang
"Ya, pak"jawab Kandulok, bergegas-gegas ia menhampiri bapaknya, "Ada apa, pak?" tanya Kandulok pula.
"Begini anakku manis. Sekarang enkau pergi ke rumah pak Kyai. Katakan, besok sehabis lohor pak Kyai diharap datang kesini. Bapak mau mengadakan selamatan !"
"Kyai, pak?" tanya Kandulok perlahan-lahan. Ia berdiri kaku sebagai tombak. Matanya layu memandang Bapaknya.
"Kyai, pak?" Kandulok menanya pula.
"Ya, pak Kyai. Kau tahu siapa yang dinamakan pak Kyai, bukan?"
"Tak tahu pak! Bagaimana rupanya pak Kyai itu, pak?"tanya Kandulok takut-takut.
"Masakan pak Kyai saja kau tak kenal. Engkau sering bermain-main di Mesjid, tetapi engkau tak tahu, siapa pak Kyai itu!"
"Tak tahu, pak! Kalau aku kenal, masakan ....."
"Ah sudah Kandulok. Dengarkan baik-baik. Aku terangkan siapa pak Kyai itu. Kalau engkau sampai di Mesjid melihat ada orang memakai jubah putih, bersorban atau memakai peci hitam, biasanya memegang tasbih, dialah yang dinamakan orang pak Kyai. Engkau mengerti sekarang?"
"Berjubah putih, pak?" tanya Kandulok dengan suara terputus-putus. Memang belum pernah sekalipun ia melihat seseorang berjubah putih di Mesjid.
Karena itulah ketika Bapaknya mengatakan pak Kyai memakai jubah putih, bersorban dan selalu memegang tasbih ia menjadi heran.
"Kau tahu atau tidak, Kandulok?" tanya bapaknya kesal. Suaranya keras sekali, hingga ibu kandulok yang sedang masak di dapur mendengarnya.
"Aih-aih !ada apa lagi sih pak?" tanya ibu Kandulok.
"Betul-betul anak kita ini bodoh! Sudah aku terangkan berkali-kali ciri-ciri pak Kyai dia tidak mengerti juga!" Kata pak Sadulah kesal.
"Ya sabarlah sedikit, pak! Anak kita berbeda dari anak orang lain. Makin kasar kita berkata-kata makin tak mengerti dia !" Begitulah kata ibu Kandulok meredakan marah suaminya. Dengan penuh kasih, ibunya memperhatikan wajah anaknya yang pucat karena dimarahi Bapaknya.
"Kandulok, kemari anakku sayang.Ibu akan terangkan bagaimana rupa pak Kyai itu. Juga tempat tinggalnya sehari-hari!" kandulok datang mendekati ibunya. Mulutnya dia buka lebar-lebar. Celah-celah giginya yang kekuningan terlihat jelas sekali. Ibunya membelai-belai rambutnya dengan penuh kasih sayang. "Nah Kandulok, besok kita mau selamatan, bapakmu menyuruh engkau panggil pak Kyai, bukan?"
Kandulok menganggukkan kepalanya tanpa berkata-kata sepatahpun.
"Engkau kenal pak Kyai?" tanya ibunya.
"Tidak kenal, bu!' jawab Kandulok perlahan-lahan.
"Nah sekarang ibu akan terangkan ciri-ciri pak Kyai itu. Jika kau datang ke Mesjid, di sana selalu ada pak kyai. Kalau tak salah rumahnya ada di sebelah kanan mesjid. Orangnya selalu pakai jubah dan sorban putih. Biasanya ia pegang tasbih, karena setiap saat pak kyai berdoa. Jadi kalau lihat orang, semacamitu, dialah yang dinamakan pak kyai, sekarang engkau mengerti, bukan?"
"Mengerti bu!" jawab Kandulok.
"Bagus," kata ibunya pula."Nah kalau engkau sudah bertemu dengan pak Kyaiitu, katakan begini,"Pak Kyai, bapak harap besok datang sehabis lohor ke rumah kai. Karena Bapak hendak mengadakan selamatan!Tak usah engkau tambahi atau kurangi pesan bapakmu itu! Nah, pergilah engkau, jangan sampai terlambat!"
"Baik bu!" jawab Kandulok, lalu pergilah ia. Sementara itu Ibu Kandulok memperhatikan benar-benar langkah anaknya sampai hilang dari pandangannya. Dengan menarik nafas dalam-dalam, ibu Kandulok berkata, "Pak , kasihan betul nasib anak kita yang sangat bodoh itu!"
"Apakah aku salah, kalau aku marahi dia tadi?" jawab pak Sadulah memutus perkataan istrinya. Lalu sambungnya pula, "Berkali-keli aku terangkan, hingga kaku mulutku, tetapi dia tidak mengerti juga. Jika engkau tak lekas datang, mungkin sekali tanganku telah melayang di kepalanya!"
Dengan nada sedih isteri pak Sadulah menjawab,"Ya, apa hendak dikata, anak tunggal kita telah ditakdirkan mempunyai otak tumpul!"
setelah hening sejenak pak Sadulah berkata,"Walaupun umur anak kita hampir 14 tahun, tetapi engkau dengar sendiri tadi----ia belum kenal pak kyai. Di sekolah? Waduh, dia terbilang anak yang bodoh sekali. Aku seringkali ditegur gurunya, supaya aku ikut mengajar dia di rumah. Kau mau tahu bagaimana keadaan anak kita di pengajian? Kawan-kawannya sudah pandai membaca Al-Qur'an, tetapi Kandulok belum dapat mengenal huruf. Sekali pernah aku ajak dia bekerja di sawah. Kau tahu apa kerjanya disana? Bukan membantu aku, melainkan hanya memandang burung-burung yang berterbangan, atau memetik-metik bunga padi. Ya, aku tak tahu, bagaimana nasibnya kelak!"
Betapa pedihnya hati ibu kandulok, tak dapat dilukiskan. Ia berdoa, semoga Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan rahmat-Nya, agar anaknya menjadi anak yang berguna untuk Nusa dan bangsa kelak. Sementara itu Kandulok telah sampai di masjid. Matanya tajam memperhatikan tiap-tiap orang yang lewat. ia masih mencari-cari dimana tempat tinggal pak kyai.
"Apa kata ibuku tadi? O, ya,ia selalu ada di Mesjid, pakai jubah putih," begitu kata Kandulok seorang diri. Ia perhatikan sungguh-sungguh ruang mesjid. Tetapi ia tak bertemu dengan orang berjubah putih. Ketika ia keluar mesjid, terlihat olehnya seiringan burung bangau, "Nah, apa ini yang dinamakan pak kyai? Tidak salah lagi. Mereka berjingkrak seperti anak kecil minta dibelikan gula-gula di warung.
"Pak kyai!" teriak Kandulok sambil mendekati burung-burung bangau itu. "Ho, mengapa mereka tak mau berhenti? Apa ada orang lain yang mau berkenduri pula?" pikir Kandulok.
"Pak Kyai, pak Kyai!!" Teriak Kandulok berulang-ulang. "Bapakku .....!" Belum lagi habis Kandulok berkata-kata semua burung bangau itu terbang, Mungkin sekali burung-burung itu terkejut mendengar suara Kandulok seperti bunyi kaleng pecah. Kandulok tak putus harapan. Sekali lagi ia berteriak sekuat tenaga,"Pak Kyai, pak kyai. Di rumah mau selamatan ...!"
Burung-burung bangau tadi tak menghiraukan teriak Kandulok. Makin dikejar-kejar, makin tinggi terbang burung-burung itu. Hilangkah semua harapannya. Kesal hati Kandulok buka main. lama ia berdiri di tempat itu, sampai burung-burung itu menghilang dari penglihatannya.
"Ya, bagaimana harus kukatakan kepada Bapakku nanti?" Keningnya ia tutupi denga telapak tangan kiri seakan-akan ia sedang berpikir. Sambil memikirkan apa yang akan dia katakan nanti, pulanglah ia.
Untung baik juga bagi Kandulok. Kebetulan sekali bapaknya tidak ada dirumah. Jadi di rumahnya hanya ada ibunya saja.
Ketika ibunya melihat wajah anaknya yang berseri-seri, dia sangka si Kandulok berhasil berjumpa dengan pak Kyai.
"engkau bertemu dengan pak Kyai?" tanya ibunya ingin tahu.
"Sudah bu!Aku sudah bertemu dengan pak kyai. Pesan Bapak sudah kusampaikan. Tetapi .... "
"Tapi bagaimana, anakku sayang?" tanya ibunya kandulok perlahan-lahan.
"Pak kyai tak menjawab apa-apa, bu. Malahan waktu aku hampiri, mereka takut. Lalu mereka terus terbang dan menghilang di sawah. Apa pak kyai dapat terbang, bu?" tanya Kandulok.
"Pak kyai terbang ke sawah?" tanya ibunya heran. Kandulok diam saja. Lalu ibunya berkata," Coba kau ceritakan sekali lagi dimana kau berjumpa pak kyai itu. Dan apa sebabnya ia terbang ke sawah. Ibu tak mengerti maksudmu!"
Kandulok mundur beberapa langkah. Ia bingung apa yang hendak dia ceritakan. Setelah berkali-kali didesak, akhirnya Knadulok menceritakan juga pertemuannya dengan "Pak kyai". Katanya,"Sesudah lama aku menunggu lama di depan masjid, lewat segerombolan "pak kyai". Aku pikir mereka baru sembahyang. Sebab pak kyai itu masih memakai jubah putih. Aku hampiri salah seorang "pak kyai" itu. Aku katakan sekuat-kuatnya pesan Bapak, hingga orang-orang yang mendengarnya menertawakan aku. Tetapi Pak kyai diam saja. Malahan mereka berjalan lebih cepat lagi."
"Lalu apa yang kau lakukan?" tanya ibunya. Bibirnya dirapatkan karena menahan tawa.
"Aku perhatikan mereka. Aku lihat pak kyai itu turun lagi. Lalu mereka pergi kesawah beramai-ramai. Barangkali di sawah ada orang yang selamatan juga, bu!"
"Aduh, aduh. itu bukan pak kyai, melainkan burung bangau, kandulok. Bapakmu tentu marah, kalau ia mendengar ceritamu itu. Ayo, cepat-cepat kau pergi ke masjid lagi. Barangkali pak kyai sudah ada di sana, sebab sebentar lagi tiba waktu asyar!" kata ibunya.
"Asyar , bu? Di mana tempat tinggal pak asyar?" tanya Kandulok heran.
"Bukan pak asyar yang harus kau cari, Kandulok. Asyar yang aku maksudkan yaitu waktu sembahyang sesudah lohor," jawab ibu Kandulok dengan lemah-lembut. "Nah, cepat-cepatlah kau pergi. Sebentar lagi bapakmu pulang. Kalau ia tahu engkau belum bertemu pak kyai, tentu ia marah!"
Kandulok diam saja. Ia berdiri tegak seperti tonggak. Mungkin ia bimbang, apakah ia akan bertemu dengan pak kyai atau tidak.
"Bagaimana Kandulok? Apa engkau mau pergi apa tidak! Ibu khawatir bapakmu akan marah nanti. Pergilah segera. dan engkau masih ingat ciri-ciri pak kyai itu, bukan? O, ya, ibu tambah lagi ciri-ciri pak kyai itu! Engkau pernah mendengar orang membaca doa, bukan?"
"Pernah, bu!" jawab Kandulok cepat.
"Nah, orang-orang yang semacam itu patut engkau undang. Mereka dapatjuga dianggap pak kyai, walaupun belum menjadi kyai yang sebenarnya!"
"Baiklah kalau begitu, bu!" jawab Kandulok, lalu ia pergi ke mesjid lagi. "Sayang, kalau tadi ibu katakan tidak semua kyai pakai jubah, dan asal dapat membaca doa saja, tentu mudah aku mencari dia!" pikir Kandulok.
Si Kandulok ini adalah buku yang saya baca ketika masih SD, saya temukan buku ini di perpustakaan sekolah. Saya lupa ceritanya, tapi yang saya ingat adalah pemerannya Kandulok, buku ini lucu sudah itu saja yang saya ingat. Tapi yang menarik buku ini tidak pernah hilang dari ingatan saya sebagai buku yang saya suka, entah kenapa ? mungkin karena itu buku pertama yang saya baca dengan serius selain majalah anak entahlah. Sudah lama saya mencari buku ini di internet, tapi tidak pernah ketemu, sekali waktu saya cari di google buku, baru tau saya judulnya si kandulok, terus saya search lagi ketemu blog ini. pertanyaannya dimana ya saya bisa dapat buku ini ?
BalasHapus